Kata bijak kehidupan paling berguna kalau kamu tahu siapa yang menulisnya, di karya apa, dan dalam keadaan seperti apa. Karena itu, setiap kutipan di halaman ini kami telusuri sampai ke teks karyanya: dialog Platon, surat Seneca, catatan pribadi Marcus Aurelius, esai Montaigne dan Emerson, catatan harian Kierkegaard, buku Thoreau, surat-surat Kartini, novel Pramoedya Ananta Toer, dan sajak Chairil Anwar. Kutipan dari karya berbahasa asing kami terjemahkan sendiri, dan teks aslinya kami sertakan supaya kamu bisa membandingkan.
Sumber itu penting karena banyak kalimat indah beredar dengan nama tokoh terkenal, padahal tidak pernah ditemukan dalam tulisan atau pidatonya. Kalimat seperti itu tidak kami pasangkan dengan nama siapa pun. Beberapa di antaranya kami taruh di bagian ungkapan populer, lengkap dengan keterangannya.
Lalu bagaimana memakai kata bijak tentang kehidupan tanpa sekadar menyimpannya di galeri ponsel? Psikologi punya istilah yang dekat dengan kebiasaan ini. Kamus Psikologi APA mendefinisikan self-reflection (refleksi diri) sebagai pemeriksaan, perenungan, dan analisis atas pikiran, perasaan, dan tindakan sendiri. Kamus yang sama menjelaskan teori penilaian kognitif yang diajukan Richard S. Lazarus: penilaian kita atas sebuah peristiwa ikut terlibat dalam munculnya setiap emosi. Itu sebabnya beberapa kutipan di bawah, dari Marcus Aurelius sampai Pramoedya, menyinggung soal cara kita memandang hidup, bukan hanya soal apa yang terjadi.
Ada juga batasnya. Merenung berbeda dengan memikirkan hal yang sama berulang-ulang secara berlebihan sampai mengganggu aktivitas pikiran lain, yang oleh APA disebut ruminasi. Kalau sebuah kalimat justru membuatmu terus berputar di pikiran yang berat, berhenti dulu, ceritakan pada orang yang kamu percaya, dan baca juga tulisan kami tentang overthinking. Untuk informasi kesehatan mental yang lebih lengkap, kunjungi BugarSelalu.
Baca pelan-pelan. Pilih satu kutipan yang paling mengena, lalu bawa ke pertanyaan refleksi di bagian bawah halaman.