Motivasi Intrinsik: Arti, Contoh, Bedanya dengan Ekstrinsik, dan Cara Menumbuhkannya
Motivasi intrinsik adalah dorongan untuk terlibat dalam suatu aktivitas yang bersumber dari kesenangan atau kepuasan pada aktivitas itu sendiri, bukan dari manfaat luar seperti uang, nilai, atau pujian.

Ringkasan jawaban
Motivasi intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena aktivitas itu sendiri terasa menarik atau memuaskan, bukan karena hadiah, nilai, atau hukuman. Lawannya, motivasi ekstrinsik, muncul demi hasil di luar aktivitas, tetapi menurut teori self-determination dari Edward Deci dan Richard Ryan tidak selalu buruk. Dorongan dari dalam tumbuh saat tiga kebutuhan terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Motivasi intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena aktivitas itu sendiri terasa menarik atau memuaskan, bukan karena hadiah, nilai, atau pujian yang menunggu di ujungnya. Contohnya membaca novel sampai larut karena penasaran pada akhir ceritanya, padahal tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang menilai.
Lawannya adalah motivasi ekstrinsik, yaitu melakukan sesuatu demi hasil di luar aktivitas itu. Artikel ini membahas bedanya, teori yang paling banyak dipakai untuk menjelaskannya, kapan hadiah justru menggerus minat, dan cara menumbuhkan dorongan dari dalam ketika tugasmu tidak selalu menyenangkan.
Apa itu motivasi intrinsik?
Kamus Psikologi APA mendefinisikannya sebagai dorongan untuk terlibat dalam suatu aktivitas yang bersumber dari kesenangan pada aktivitas itu sendiri, misalnya minat yang tulus pada mata pelajaran yang dipelajari. Dorongan ini tidak bergantung pada manfaat luar yang bisa didapat, seperti uang atau nilai kredit kuliah.
Richard Ryan dan Edward Deci, dua psikolog yang saat itu sama-sama di University of Rochester, merumuskannya dengan cara serupa dalam ulasan mereka di Contemporary Educational Psychology. Motivasi intrinsik, tulis mereka, adalah melakukan suatu aktivitas demi kepuasan yang melekat padanya, bukan demi konsekuensi yang terpisah. Saat termotivasi secara intrinsik, seseorang bergerak karena keseruan atau tantangannya, bukan karena dorongan, tekanan, atau hadiah dari luar.
Menurut keduanya, kecenderungan ini sudah tampak sejak lahir. Manusia dalam kondisi paling sehatnya aktif, ingin tahu, dan suka bermain, serta tidak butuh iming-iming untuk belajar dan menjelajah. Lewat minat itulah pengetahuan dan keterampilan seseorang tumbuh.
Contoh motivasi intrinsik dalam keseharian
- Pelajar mengerjakan soal matematika tambahan karena puas saat berhasil memecahkannya.
- Mahasiswa membaca jurnal di luar silabus karena penasaran pada topiknya.
- Pekerja muda mengutak-atik rumus spreadsheet di akhir pekan karena senang menemukan cara yang lebih rapi.
- Siapa pun yang bermain gitar, menggambar, atau berkebun tanpa berniat dinilai siapa-siapa.
Perhatikan bahwa yang membuat contoh motivasi di atas tergolong intrinsik bukan jenis aktivitasnya, melainkan alasannya. Membaca jurnal yang sama bisa intrinsik bagi satu orang dan ekstrinsik bagi orang lain yang membacanya hanya karena takut ditegur dosen pembimbing.
Motivasi intrinsik dan ekstrinsik: bedanya bukan soal baik dan buruk
Motivasi ekstrinsik, menurut Kamus Psikologi APA, adalah dorongan dari luar untuk melakukan suatu aktivitas, terutama yang muncul dari harapan akan hadiah atau hukuman. Contoh yang dipakai kamus itu: mengerjakan tugas rumah tangga yang tidak disukai demi dibayar.
| Aspek | Motivasi intrinsik | Motivasi ekstrinsik |
|---|---|---|
| Sumber dorongan | Aktivitasnya sendiri terasa menarik, menantang, atau indah | Hasil di luar aktivitas: nilai, uang, pujian, atau menghindari hukuman |
| Pertanyaan khasnya | "Seru tidak, ya?" | "Aku dapat apa?" atau "Apa akibatnya kalau tidak?" |
| Contoh | Menulis cerpen karena menikmati prosesnya | Menulis cerpen karena syarat kelulusan mata pelajaran |
| Kapan bisa muncul | Hanya pada aktivitas yang punya daya tarik bagimu | Bisa dipasang pada aktivitas apa pun, termasuk yang membosankan |
Banyak tulisan populer berhenti di tabel seperti ini, lalu menyimpulkan dorongan dari dalam itu baik dan ekstrinsik itu buruk. Menurut kami, kesimpulan itu terlalu cepat. Ryan dan Deci sendiri mencatat bahwa setelah masa kanak-kanak, sebagian besar aktivitas yang dilakukan orang sebenarnya tidak termotivasi secara intrinsik. Tuntutan sosial dan peran mengharuskan kita bertanggung jawab atas tugas yang tidak menarik. Di sekolah, kata mereka, minat semacam ini tampak makin lemah di setiap kenaikan kelas.
Jadi, berharap semua tugas terasa seru adalah resep kecewa. Yang lebih berguna adalah menyadari bahwa motivasi ekstrinsik pun punya tingkatan. Ryan dan Deci memberi contoh dua siswa yang sama-sama mengerjakan PR demi hasil di luar PR itu. Siswa pertama melakukannya karena takut dimarahi orang tua. Siswa kedua melakukannya karena yakin materinya berguna bagi karier yang ia pilih. Keduanya ekstrinsik, tetapi yang kedua disertai rasa memilih, sementara yang pertama sekadar patuh pada kendali dari luar.
Teori self-determination: peta motivasi dari Deci dan Ryan
Kalau kamu mencari motivasi menurut para ahli, teori yang dibahas di sini diperkenalkan oleh psikolog Edward Deci dan Richard Ryan dalam buku mereka tahun 1985, seperti mereka rujuk sendiri dalam ulasan tahun 2000. Kamus APA merangkum teori self-determination sebagai gagasan bahwa pengaturan perilaku bergerak di sepanjang kontinum. Ujung satunya dikendalikan dari luar, misalnya demi hadiah atau menghindari hukuman. Ujung lainnya otonom atau termotivasi secara intrinsik, misalnya karena senang atau ingin menjelajahi minat.

Dalam ulasan tahun 2000, Ryan dan Deci memetakan kontinum itu menjadi enam titik:
- Amotivasi: tidak ada niat untuk bertindak. Kondisi ini muncul ketika seseorang tidak menghargai aktivitasnya, tidak merasa mampu melakukannya, atau tidak yakin aktivitas itu membawa hasil yang diinginkan.
- Regulasi eksternal: bertindak untuk memenuhi tuntutan dari luar atau mendapat hadiah yang dipasang orang lain. Rasanya dikendalikan.
- Regulasi introjeksi: aturannya sudah masuk ke dalam diri, tetapi masih menekan. Kamu melakukannya agar tidak merasa bersalah atau demi menjaga harga diri.
- Regulasi identifikasi: kamu melihat pentingnya perilaku itu bagi dirimu dan menerima aturannya sebagai milikmu. Contoh dari Ryan dan Deci: anak yang menghafal ejaan karena menganggapnya penting untuk menulis, tujuan hidup yang ia hargai.
- Regulasi integrasi: nilai itu sudah selaras dengan nilai dan kebutuhanmu yang lain. Bentuk ini mirip motivasi intrinsik karena sama-sama otonom, tetapi tetap ekstrinsik karena dilakukan demi hasil yang terpisah dari aktivitasnya.
- Motivasi intrinsik: dilakukan karena aktivitasnya sendiri memuaskan.
Satu catatan penting dari Ryan dan Deci: kontinum ini bukan tangga yang wajib dinaiki satu per satu. Seseorang tidak harus melewati setiap titik, dan motivasi ekstrinsik yang makin terinternalisasi pun tidak otomatis berubah menjadi motivasi intrinsik.
Apa kata data tentang jenis-jenis motivasi ini
Joshua Howard dan rekan, termasuk Ryan, menggabungkan data dari 344 sampel dengan 223.209 peserta dalam meta-analisis tentang motivasi pelajar. Hasilnya, motivasi intrinsik berkaitan dengan keberhasilan dan kesejahteraan pelajar, sedangkan regulasi identifikasi sangat berkaitan dengan ketekunan. Regulasi introjeksi berkaitan positif dengan ketekunan, tetapi juga dengan tanda-tanda kesejahteraan yang memburuk. Motivasi demi hadiah atau menghindari hukuman tidak berkaitan dengan prestasi maupun ketekunan, malah berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih rendah.
Bagi kami, temuan ini melegakan. Kamu tidak perlu mencintai setiap mata kuliah atau setiap tugas kantor. Menemukan alasan pribadi yang kamu yakini, alias regulasi identifikasi, sudah membawamu cukup jauh.
Tiga kebutuhan dasar yang menyuburkan dorongan dari dalam
Mengapa ada orang yang mudah tenggelam dalam tugasnya, sementara yang lain harus terus didorong? Dalam artikel di American Psychologist, Ryan dan Deci merangkum penelitian bertahun-tahun menjadi tiga kebutuhan psikologis bawaan: kompetensi, otonomi, dan keterhubungan. Saat ketiganya terpenuhi, motivasi diri dan kesehatan mental meningkat. Saat ketiganya terhalang, motivasi dan kesejahteraan menurun.

- Otonomi berarti merasa tindakanmu adalah pilihanmu sendiri. Ryan dan Deci mencatat bahwa pilihan dan kesempatan mengarahkan diri cenderung memperkuat dorongan dari dalam.
- Kompetensi berarti merasa mampu. Tantangan yang pas, umpan balik yang membangun, dan bebas dari penilaian yang merendahkan diperkirakan mendukung dorongan dari dalam. Uniknya, rasa mampu saja tidak cukup. Menurut bagian teori yang disebut cognitive evaluation theory, rasa mampu baru menguatkan motivasi intrinsik bila disertai rasa otonom.
- Keterhubungan berarti merasa terhubung dan dihargai. Di kelas, tulis Ryan dan Deci, perasaan dihormati dan diperhatikan guru menjadi kunci kesediaan siswa menerima nilai-nilai yang diajarkan.
Di sisi lain, ada hal-hal yang cenderung melemahkan dorongan dari dalam karena terasa mengendalikan: hadiah berwujud yang sudah diharapkan, ancaman, tenggat, perintah, dan tekanan kompetisi. Daftar ini terasa akrab bagi siapa pun yang pernah mengerjakan tugas kelompok menjelang tenggat. Tenggat tentu tidak bisa dihapus dari hidup. Namun, mengetahui efeknya membantumu tidak menyalahkan diri ketika minat terasa menyusut di pekan ujian atau akhir kuartal.
Kapan hadiah justru menggerus motivasi intrinsik
Kamus Psikologi APA menyebut fenomena ini overjustification effect. Memberi hadiah atas suatu kinerja bisa membuat minat pada aktivitas itu justru turun, karena hadiah dari luar melemahkan motivasi intrinsik yang semula menjadi penggerak utama.
Bukti terbesarnya datang dari meta-analisis Edward Deci, Richard Koestner, dan Richard Ryan terhadap 128 studi tentang hadiah. Hadiah karena ikut serta, karena menyelesaikan tugas, maupun karena kinerja tertentu sama-sama menurunkan minat yang diukur dari pilihan bebas peserta. Hal serupa berlaku untuk hadiah berwujud dan hadiah yang sudah diharapkan. Sebaliknya, umpan balik positif menaikkan minat. Dampak buruk hadiah berwujud juga cenderung lebih besar pada anak-anak dibanding mahasiswa.
Kalau kamu sedang merancang hadiah untuk diri sendiri, pembahasan self reward yang sehat menjelaskan cara memakainya tanpa menggerus minat.
Tapi insentif tidak selalu musuh
Di sinilah gambaran populer sering terlalu hitam putih. Christopher Cerasoli, Jessica Nicklin, dan Michael Ford meninjau riset selama 40 tahun di sekolah, tempat kerja, dan aktivitas fisik dengan total 212.468 peserta. Mereka menemukan motivasi intrinsik adalah prediktor sedang sampai kuat bagi kinerja, dan perannya tetap ada baik ada insentif maupun tidak. Ketika insentif dikaitkan langsung dengan kinerja, perannya mengecil. Motivasi intrinsik lebih menjelaskan mutu kinerja, sedangkan insentif lebih menjelaskan jumlahnya. Kesimpulan mereka: keduanya tidak selalu bertentangan dan sebaiknya dipertimbangkan bersama.
Tafsiran kami: insentif cocok untuk pekerjaan yang ukurannya jumlah, misalnya menuntaskan seratus soal latihan. Untuk pekerjaan yang ukurannya mutu, seperti menulis esai yang benar-benar bernas, yang perlu kamu jaga adalah minat dan rasa memilih.
Cara memotivasi diri dari dalam: lima langkah berbasis teori
Langkah di bawah ini adalah terjemahan praktis kami dari prinsip teori self-determination. Ini bukan resep yang dijamin manjur untuk semua orang, tetapi setiap langkah berpijak pada temuan yang sudah dibahas di atas.
1. Cari satu alasan yang benar-benar milikmu
Ryan dan Deci mengutip eksperimen Deci dan rekan (1994): memberi alasan yang bermakna untuk tugas yang tidak menarik, disertai dukungan otonomi dan keterhubungan, mendorong orang menginternalisasi tugas itu. Coba tulis satu kalimat: "Aku mengerjakan ini karena..." Kalau yang muncul hanya "karena disuruh", gali satu lapis lebih dalam. Mungkin materi statistik itu membosankan, tetapi kamu ingin skripsimu bisa dipertanggungjawabkan.
2. Ciptakan pilihan, sekecil apa pun
Kamu mungkin tidak bisa memilih tugasnya, tetapi sering bisa memilih urutan, tempat, atau caranya. Memutuskan sendiri bagian mana yang dikerjakan lebih dulu sudah memberi rasa otonom.
3. Atur tantangan agar pas
Tugas yang terlalu mudah terasa membosankan, sedangkan yang terlalu sulit membuatmu merasa tidak mampu. Pecah tugas besar menjadi bagian yang menantang tetapi terjangkau. Sesi pendek dengan timer pomodoro membantu membuat bagian itu konkret, dan strategi lainnya ada di panduan cara belajar efektif.
4. Beri dirimu umpan balik, bukan hanya hadiah
Dalam meta-analisis Deci dan rekan, umpan balik positif menaikkan minat. Kami menilai mencatat kemajuan lebih mirip umpan balik ketimbang hadiah, sehingga relatif aman dipakai. Mencentang sesi belajar di pelacak kebiasaan adalah bentuk sederhananya.
5. Jangan berjalan sendirian
Keterhubungan termasuk kebutuhan dasar. Belajar bersama teman yang serius, atau sekadar menceritakan progresmu kepada orang yang peduli, memberi rasa terhubung yang membantu kamu menerima tugas sebagai milikmu sendiri.
Kalau motivasi intrinsik tidak kunjung muncul
Ada kalanya kamu sudah mencoba semuanya, dan tugas itu tetap terasa hambar. Itu wajar. Ryan dan Deci menegaskan motivasi intrinsik hanya muncul pada aktivitas yang punya daya tarik bagi seseorang, misalnya karena baru, menantang, atau indah. Untuk aktivitas yang tidak punya daya tarik seperti itu, prinsip penumbuh motivasi intrinsik tidak berlaku.
Di titik ini, targetnya bukan memaksa diri menyukai tugas, melainkan menggeser alasanmu ke arah kanan kontinum, dari "takut ditegur" menuju "aku tahu ini penting untukku". Data Howard dan rekan menunjukkan regulasi identifikasi berkaitan erat dengan ketekunan, jadi alasan yang kamu yakini sudah cukup sebagai bahan bakar.
Kebiasaan juga membantu. Saat sebuah tindakan sudah menjadi rutinitas, kamu tidak perlu menunggu rasa ingin datang lebih dulu. Ulasan buku Atomic Habits membahas cara membangun rutinitas itu, sedangkan artikel produktif adalah mengingatkan bahwa yang dihitung adalah hasil yang bermakna, bukan kesibukan.
Kalau kamu butuh pemantik singkat untuk memulai hari, kumpulan kata-kata motivasi bersumber bisa membantu. Bagi kami, kalimat penyemangat paling terasa manfaatnya ketika menempel pada alasan yang sudah kamu yakini sendiri.
Mulai dari satu pertanyaan
Motivasi intrinsik tidak bisa dipaksa, tetapi bisa diberi ruang. Malam ini, ambil satu tugas yang paling sering kamu hindari dan tanyakan pada dirimu: "Kalau tidak ada yang menilai, bagian mana dari tugas ini yang masih membuatku penasaran?"
Tulis jawabannya di jurnal refleksi, sekecil apa pun. Jawaban itu adalah titik awal yang baik. Untuk bacaan lain seputar dorongan dan semangat, jelajahi pilar motivasi.
Coba praktikkan
Temukan satu alasan yang benar-benar milikmu
- Pilih satu tugas minggu ini yang paling sering kamu tunda, misalnya satu bab laporan atau satu set latihan soal.
- Tulis satu kalimat: aku mengerjakan ini karena... Lalu tandai apakah alasannya datang dari luar (takut ditegur, demi nilai) atau dari nilai yang kamu yakini sendiri.
- Cari satu bagian kecil dari tugas itu yang masih membuatmu penasaran, lalu kerjakan bagian itu lebih dulu selama satu sesi pendek.
- Setelah selesai, catat apa yang berhasil kamu pahami atau rampungkan sebagai umpan balik untuk dirimu sendiri.
Kalau tugasnya tetap terasa hambar, itu wajar. Alasan pribadi yang kamu yakini sudah cukup sebagai bahan bakar, tidak harus rasa suka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa perbedaan motivasi intrinsik dan ekstrinsik?
Motivasi intrinsik muncul karena aktivitas itu sendiri terasa menarik atau memuaskan, misalnya membaca karena penasaran. Motivasi ekstrinsik muncul demi hasil di luar aktivitas, seperti hadiah, nilai, atau menghindari hukuman. Kamus Psikologi APA memberi contoh motivasi ekstrinsik berupa mengerjakan tugas rumah tangga yang tidak disukai demi dibayar.
Apa contoh motivasi intrinsik bagi pelajar dan mahasiswa?
Contohnya mengerjakan soal tambahan karena puas saat berhasil memecahkannya, membaca jurnal di luar silabus karena penasaran pada topiknya, atau menulis cerpen karena menikmati prosesnya. Yang membuatnya intrinsik adalah alasannya, bukan jenis aktivitasnya.
Apakah motivasi ekstrinsik selalu buruk?
Tidak. Teori self-determination membedakan motivasi ekstrinsik yang dikendalikan dari luar dengan yang otonom, misalnya belajar statistik karena kamu yakin itu penting untuk skripsimu. Meta-analisis Howard dan rekan (2021) menemukan alasan pribadi seperti ini sangat berkaitan dengan ketekunan pelajar.
Apakah hadiah bisa merusak motivasi intrinsik?
Bisa, terutama hadiah berwujud yang sudah diharapkan. Meta-analisis Deci, Koestner, dan Ryan terhadap 128 studi menemukan hadiah seperti itu cenderung menurunkan motivasi intrinsik, sedangkan umpan balik positif justru menaikkan minat. Efek ini disebut overjustification effect.
Siapa ahli yang mengembangkan teori self-determination?
Teori self-determination dikembangkan oleh psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, yang pada ulasan mereka tahun 2000 sama-sama tercatat di University of Rochester, Amerika Serikat. Teori ini dirumuskan dalam buku Deci dan Ryan tahun 1985, Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior (dirujuk Ryan dan Deci, 2000), dan menjelaskan jenis-jenis motivasi beserta tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Bagaimana cara memotivasi diri dari dalam?
Mulailah dengan mencari satu alasan yang benar-benar kamu yakini, ciptakan pilihan kecil dalam cara mengerjakan tugas, atur tantangan agar pas dengan kemampuanmu, catat kemajuan sebagai umpan balik, dan libatkan orang yang peduli. Langkah-langkah ini diturunkan dari tiga kebutuhan dasar dalam teori self-determination.
Penulis dan penanggung jawab redaksi Inti Diri
Ahmad Thariq Syauqi menulis artikel Inti Diri dan bertanggung jawab atas isi redaksinya. Ia adalah CEO dan pendiri Creativism, agensi digital marketing di Sleman, Yogyakarta, dan berpengalaman lebih dari 6 tahun menjalankan agensi. Ia bukan psikolog; setiap artikel yang ia tulis dicocokkan dengan sumber psikologi kredibel, dan daftar sumbernya ada di akhir artikel.
Disusun dengan bantuan AI, klaim dicocokkan ke sumber oleh redaksi. Pencocokan sumber terakhir: 15 Oktober 2026. Lihat cara kami menulis.
Sumber
- APA Dictionary of Psychology, American Psychological Association. Intrinsic motivation. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
- APA Dictionary of Psychology, American Psychological Association. Extrinsic motivation. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
- APA Dictionary of Psychology, American Psychological Association. Self-determination theory. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
- APA Dictionary of Psychology, American Psychological Association. Overjustification effect. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
- Richard M. Ryan dan Edward L. Deci (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations: Classic Definitions and New Directions. Contemporary Educational Psychology (salinan penulis di selfdeterminationtheory.org). doi:10.1006/ceps.1999.1020 (diakses 15 Oktober 2026)
- Richard M. Ryan dan Edward L. Deci (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist (PubMed). doi:10.1037/0003-066X.55.1.68 (diakses 15 Oktober 2026)
- Edward L. Deci, Richard Koestner, dan Richard M. Ryan (1999). A meta-analytic review of experiments examining the effects of extrinsic rewards on intrinsic motivation. Psychological Bulletin (PubMed). doi:10.1037/0033-2909.125.6.627 (diakses 15 Oktober 2026)
- Christopher P. Cerasoli, Jessica M. Nicklin, dan Michael T. Ford (2014). Intrinsic motivation and extrinsic incentives jointly predict performance: a 40-year meta-analysis. Psychological Bulletin (PubMed). doi:10.1037/a0035661 (diakses 15 Oktober 2026)
- Joshua L. Howard, Julien Bureau, Frédéric Guay, Jane X. Y. Chong, dan Richard M. Ryan (2021). Student Motivation and Associated Outcomes: A Meta-Analysis From Self-Determination Theory. Perspectives on Psychological Science (PubMed). doi:10.1177/1745691620966789 (diakses 15 Oktober 2026)
Bagikan artikel ini



