Filosofi, Buku & Mindfulness

Ulasan Buku Filosofi Teras (Henry Manampiring): Isi, Kekuatan, dan Untuk Siapa Buku Ini

Filosofi Teras adalah buku pengembangan diri karya Henry Manampiring yang menerjemahkan ajaran Stoisisme, aliran filsafat yang lahir di sebuah teras berpilar di Athena sekitar 300 SM, ke dalam latihan sehari-hari untuk mengelola emosi negatif.

oleh Ahmad Thariq SyauqiDisusun dengan bantuan AI, klaim dicocokkan ke sumber oleh redaksiTerbit 9 menit baca
Ilustrasi garis nila di atas latar putih: teras rumah dengan dua tiang kayu dan atap miring, bangku kayu panjang dengan buku terbuka tertelungkup, meja kecil dengan secangkir teh, dan tanaman dalam pot
Nama Filosofi Teras berasal dari stoa, teras berpilar di Athena tempat Zeno dan murid-muridnya berkumpul.

Ringkasan jawaban

Filosofi Teras adalah buku karya Henry Manampiring (Penerbit Kompas, 2018) yang mengenalkan Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi kuno, sebagai cara praktis mengelola emosi negatif. Gagasan intinya adalah dikotomi kendali: fokus pada penilaian, keinginan, dan tujuanmu sendiri, bukan pada hal di luar kendalimu. Buku ini cocok untuk pembaca muda yang ingin berkenalan dengan filsafat lewat bahasa sehari-hari, asalkan dibaca sebagai pintu masuk, bukan kajian filsafat yang lengkap.

Filosofi Teras adalah buku karya Henry Manampiring yang mengenalkan Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi kuno, sebagai cara praktis menghadapi emosi negatif sehari-hari. Inti ajarannya sederhana untuk diucapkan, tetapi butuh latihan untuk dijalani: bedakan hal yang ada dalam kendalimu dari hal yang tidak, lalu taruh tenagamu pada yang pertama.

Ulasan ini membahas identitas buku, lima gagasan utamanya, apa kata kajian ilmiah tentang latihan ala Stoa, kekuatan dan catatan kritis kami, serta siapa yang paling diuntungkan membacanya. Kami tidak menyalin isi buku. Ringkasan di bawah ditulis dengan kata-kata sendiri dan bersandar pada kajian akademik yang membedah buku ini, ditambah teks asli filsuf Stoa yang dirujuknya.

Buku Filosofi Teras: identitas dan perjalanannya

Judul lengkap buku Henry Manampiring ini adalah Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Cantuman Katalog Perpustakaan Nasional untuk cetakan keenam (Maret 2019) mencatat Henry Manampiring sebagai pengarang, Patricia Wulandari sebagai editor, dan Levina Lesmana sebagai ilustrator, dengan tebal xxiv + 320 halaman. ISBN yang sama juga tercatat untuk terbitan PT Kompas Media Nusantara tahun 2018 di katalog perpustakaan daerah yang terhimpun di Indonesia OneSearch, jadi buku ini pertama kali beredar pada 2018.

DataKeterangan
PenulisHenry Manampiring
PenerbitPenerbit Kompas (PT Kompas Media Nusantara)
Terbit pertama2018
Editor dan ilustratorPatricia Wulandari dan Levina Lesmana
Tebal (cetakan keenam, 2019)xxiv + 320 halaman
ISBN cetakan awal978-602-412-518-9
PenghargaanBook of the Year, Ikapi Award 2019

Setahun setelah terbit, Henry Manampiring meraih kategori Book of the Year dalam Ikapi Award 2019 lewat buku ini, seperti diberitakan Republika pada 4 September 2019. Perjalanannya belum berhenti. Pada Agustus 2026, RRI melaporkan bahwa buku ini sedang diadaptasi menjadi film oleh MD Pictures dengan sutradara Affandi Abdul Rachman.

Satu hal praktis: buku ini sudah dicetak ulang berkali-kali dengan tebal halaman dan ISBN yang berbeda. Sebagai contoh, katalog perpustakaan IPDN mencatat cetakan ke-60 tahun 2024 setebal xxviii + 324 halaman dengan ISBN 978-623-346-931-9. Kalau kamu ingin mengutip halaman tertentu untuk tugas kuliah, cek dulu ISBN di halaman hak cipta bukumu.

Kenapa judulnya "teras"?

Nama Stoisisme berasal dari stoa poikilê, teras berpilar berhias lukisan dinding di Agora Athena tempat generasi pertama filsuf Stoa berkumpul dan mengajar. Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, aliran ini didirikan Zeno dari Citium sekitar 300 SM, lalu populer di masa Romawi lewat Seneca, Epictetus, dan Kaisar Marcus Aurelius.

Kajian Ilhami dan Subakti (2023) mencatat bahwa judul Filosofi Teras adalah terjemahan langsung dari kata stoa itu. Pilihan judul ini, menurut kami, langkah cerdas. Kata "Stoisisme" terdengar akademik dan berjarak, sedangkan "teras" terasa akrab: tempat duduk santai sambil mengobrol, bukan ruang kuliah.

Diagram dua lingkaran bertumpuk: lingkaran dalam berlabel dalam kendalimu berisi penilaian, tujuan, keinginan, dan hal yang ingin dihindari; cincin luar berlabel di luar kendalimu berisi tubuh, harta, reputasi, jabatan, serta pendapat dan tindakan orang lain
Dikotomi kendali versi Epictetus dalam Enchiridion bab 1, yang menjadi fondasi Filosofi Teras. Contoh di lingkaran luar diringkas dari teks Epictetus dan kajian Fajrin dkk. (2022).

Isi Filosofi Teras: lima gagasan yang paling sering dibahas

Buku ini bukan sekadar kumpulan kutipan filsuf. Ada beberapa gagasan yang terus muncul dan saling menguatkan. Lima yang paling sering dibahas dalam kajian tentang buku ini kami rangkum di bawah.

1. Dikotomi kendali

Gagasan ini adalah tulang punggung buku. Fajrin, Mud'is, dan Yulianti (2022) merangkumnya begini: menurut Manampiring, semua filsuf Stoa sepakat bahwa ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Kebahagiaan yang sejati hanya bisa bersandar pada kelompok pertama. Menggantungkannya pada tindakan orang lain, pendapat orang lain, popularitas, atau kekayaan dianggap tidak rasional.

Sumber aslinya adalah bab pertama Enchiridion karya Epictetus. Dalam terjemahan Inggris Higginson, Epictetus menulis bahwa yang ada dalam kuasa kita adalah pendapat, tujuan, keinginan, dan penolakan. Yang di luar kuasa kita adalah tubuh, harta, reputasi, dan jabatan.

Stoa menyebut hal-hal di luar kendali itu indifferent, yaitu hal yang tidak menentukan baik-buruknya diri kita. Ini bukan berarti kamu tidak boleh peduli pada nilai ujian atau gaji. Artinya, nilai dirimu tidak diukur dari hal-hal itu. Yang kamu kendalikan adalah persiapanmu, bukan keputusan dosen penguji.

2. Peristiwa netral, penilaian kitalah yang memberi warna

Epictetus punya kalimat terkenal di bab kelima Enchiridion: manusia terganggu bukan oleh hal-hal, melainkan oleh pandangan yang mereka ambil tentang hal-hal itu. Menurut Fajrin dkk., Filosofi Teras membedakan apa yang ditangkap indra (impression) dari tafsiran yang kita tempelkan padanya (representation). Gagasan ini sejalan dengan kalimat Epictetus tadi.

Kajian yang sama mencatat bahwa Manampiring menyebut emosi negatif sebagai hasil "representasi otomatis", yaitu tafsiran spontan yang muncul sebelum kita sempat berpikir. Contohnya sehari-hari: pesanmu hanya dibaca tanpa dibalas. Faktanya cuma itu. Tafsiran "dia marah padaku" atau "aku tidak penting" adalah tambahan dari pikiranmu sendiri.

3. S-T-A-R: rem darurat untuk emosi

Inilah alat paling praktis di buku ini. Ilhami dan Subakti (2023) menguraikan tiga tahapnya. Stop: hentikan arus pikiran negatif begitu kamu sadar sedang terseret. Think & Assess: pikirkan dan nilai ulang kejadiannya dengan nalar, karena peristiwa pada dasarnya netral. Respond: baru setelah itu tanggapi, lewat kata-kata atau tindakan.

Diagram alur tiga kotak berurutan dengan panah: Stop berisi berhenti sejenak saat emosi negatif muncul, Think and Assess berisi menilai ulang kejadian dengan nalar, dan Respond berisi menanggapi lewat kata atau tindakan
Langkah S-T-A-R dari Filosofi Teras, diringkas dari kajian Ilhami dan Subakti (2023) dan Fajrin dkk. (2022).

Langkah kedua mirip dengan teknik yang di psikologi disebut restrukturisasi kognitif. Kamus Psikologi APA mendefinisikannya sebagai teknik dalam terapi kognitif untuk mengenali keyakinan yang merugikan diri, membantahnya, lalu mengubahnya menjadi lebih masuk akal. Kemiripan ini pengamatan kami sebagai pembaca. Bukunya sendiri tetap buku filsafat populer, bukan panduan terapi.

4. Premeditatio malorum: membayangkan yang tidak diinginkan

Istilah Latin ini berarti memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Tujuannya bukan pesimis, melainkan mengubah yang "tidak terduga" menjadi "sudah diantisipasi". Menurut Fajrin dkk., buku ini menempatkan latihan tersebut sebagai sesuatu yang bisa kita pilih untuk mengurangi kejutan dan emosi negatif ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Contohnya sebelum sidang skripsi. Kamu membayangkan dosen menanyakan bagian yang paling lemah, lalu menyiapkan jawabannya. Kalau pertanyaan itu benar muncul, kamu tidak lagi kaget.

5. Hidup selaras dengan alam, empat kebajikan, dan amor fati

Kajian Ilhami dan Subakti menyoroti tiga gagasan penutup. Pertama, hidup selaras dengan alam, yaitu memakai nalar yang menjadi ciri khas manusia. Kedua, empat kebajikan yang perlu diasah: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan menahan diri. Ketiga, amor fati, bahasa Latin untuk "mencintai takdir", yaitu menerima apa yang sedang terjadi dalam hidup tanpa berangan-angan tentang masa lalu atau masa depan. Menurut kajian itu, latihan S-T-A-R tadi justru jalan untuk mempraktikkan amor fati.

Apa kata kajian ilmiah tentang latihan ala Stoa?

Filosofi Teras adalah buku filsafat populer, jadi wajar kalau kamu bertanya: apakah latihan semacam ini sudah diuji? Bukti yang ada masih awal, tetapi menarik.

Tim Hull York Medical School menguji pelatihan daring berbasis Stoisisme selama 12 hari pada 24 mahasiswa kedokteran tahun ketiga. Hasilnya terbit di BMC Medical Education pada 2022. Skor resiliensi dan empati naik setelah pelatihan. Dalam wawancara, mahasiswa menyebut latihan membayangkan hal buruk membantu mereka lebih siap secara emosional dan praktis.

Namun, para penulisnya sendiri menyebut hasil angkanya bercampur. Pesertanya juga sedikit, dan skor dibandingkan sebelum dan sesudah pada kelompok yang sama. Jadi, kami membacanya sebagai tanda awal yang menjanjikan, bukan bukti bahwa membaca Filosofi Teras pasti membuat mentalmu tangguh. Buku yang baik membuka pintu. Perubahan tetap datang dari latihan yang kamu ulang.

Kekuatan buku ini menurut kami

Fokusnya praktis. Banyak buku pengembangan diri berhenti di motivasi. Dari kajian yang kami baca, Filosofi Teras justru menurunkan filsafat menjadi langkah konkret seperti S-T-A-R, dikotomi kendali, dan premeditatio malorum. Semuanya bisa dicoba hari itu juga tanpa biaya dan tanpa alat khusus.

Contohnya dekat dengan keseharian. Fajrin dkk. mencatat bagaimana buku ini membahas kebiasaan membandingkan hidup kita dengan popularitas, penampilan, dan kekayaan orang lain. Itu pergulatan yang sangat akrab bagi pelajar dan pekerja muda yang tiap hari menggulir media sosial. Katalog Perpustakaan Nasional juga mencatat buku ini berilustrasi, dengan Levina Lesmana sebagai ilustratornya.

Pintu masuk yang lebar. Buku ini dibaca dari berbagai sudut. Dua jurnal yang kami rujuk di atas, misalnya, membandingkannya dengan nilai-nilai Islam dan psikologi sufi. Artinya, sebagian pembaca menemukan ajarannya sejalan dengan nilai agama yang mereka pegang.

Catatan kritis: yang perlu dibaca dengan hati-hati

Stoa bukan "stoik" dalam bahasa sehari-hari. Dalam bahasa Inggris sehari-hari, stoic berarti bertekad tidak mengeluh atau menunjukkan perasaan, terutama saat mengalami hal buruk, seperti dicatat Cambridge Dictionary. Stoa kuno tidak sesederhana itu. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa orang bijak dalam ajaran Stoa tetap punya "perasaan baik" (eupatheiai), sehingga gambaran sang bijak sebagai robot tanpa perasaan adalah karikatur. Pathak dan rekan (2017) di BMJ Open mencatat bahwa makna stoisisme masa kini sudah meluas ke sikap tidak banyak bicara dan serba mandiri. Dalam konteks kesehatan, stoisisme sebagai ideologi pribadi dikaitkan dengan keterlambatan mencari pertolongan. Kalau kamu membaca Filosofi Teras sebagai izin untuk memendam semua perasaan, kamu sedang membacanya terbalik.

Konsep indifferent gampang disalahpahami jadi pasrah. Padahal, menurut daftar Epictetus, tujuan dan keinginanmu justru masuk wilayah kendalimu. Stoa mengajakmu bergerak di wilayah itu, bukan berhenti berusaha.

Ini buku pengembangan diri, bukan pengganti bantuan profesional. Latihan seperti S-T-A-R cocok untuk kerikil sehari-hari. Kalau perasaan berat terus bertahan dan mulai mengganggu keseharianmu, bicarakan dengan psikolog atau tenaga profesional. Cara mencarinya, termasuk direktori psikolog HIMPSI dan layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan, ada di halaman Bantuan. Bacaan tambahan seputar kesehatan mental ada di kanal mental Bugar Selalu, situs saudara Inti Diri.

Sebagai kajian filsafat, cakupannya terbatas. Stoisisme kuno juga punya ajaran fisika dan logika yang saling terkait dengan etikanya, seperti diuraikan Stanford Encyclopedia of Philosophy. Filosofi Teras memilih fokus pada etika praktis. Pilihan itu masuk akal untuk pembaca umum, tetapi jangan anggap bukunya sebagai gambaran utuh Stoisisme.

Untuk siapa buku Filosofi Teras cocok?

Buku ini paling bermanfaat kalau kamu:

  • Mudah terseret pendapat orang lain. Dikotomi kendali membantu memisahkan usahamu dari penilaian orang. Kalau kamu sering sulit menolak permintaan, baca juga ulasan kami soal kebiasaan menyenangkan semua orang.
  • Ingin berkenalan dengan filsafat tanpa bahasa akademik. Setelahnya, kamu bisa naik satu tingkat lewat pengantar Stoisisme yang lebih lengkap.
  • Suka buku yang langsung bisa dipraktikkan. Kalau kamu menikmati gaya ini, ulasan buku Atomic Habits membahas pendekatan serupa untuk urusan kebiasaan.

Sebaliknya, buku ini mungkin terasa terlalu ringan kalau kamu mencari kajian filsafat yang mendalam. Untuk kebutuhan itu, mulailah dari teks primernya. Enchiridion karya Epictetus tipis, dan terjemahan Inggris klasiknya karya Thomas Wentworth Higginson bisa dibaca gratis di Project Gutenberg.

Cara membaca Filosofi Teras supaya tidak berhenti di kutipan

Risiko terbesar buku populer adalah berakhir sebagai kumpulan kutipan yang dibagikan di media sosial, lalu dilupakan. Beberapa cara agar isinya benar-benar menempel:

  1. Satu bab, satu latihan. Setelah menyelesaikan satu bab, pilih satu gagasan untuk dicoba selama seminggu sebelum lanjut ke bab berikutnya.
  2. Catat kejadian, bukan hanya perasaan. Tulis apa yang terjadi, tafsiran otomatis yang muncul, lalu tafsiran setelah kamu menilai ulang. Jurnal refleksi bisa membantu kamu menyimpan catatan ini di perangkatmu sendiri.
  3. Pakai S-T-A-R untuk hal kecil dulu. Antrean panjang atau chat yang belum dibalas adalah tempat latihan yang aman sebelum situasi yang lebih besar datang.
  4. Diskusikan. Ajak teman membaca bersama. Membandingkan tafsiran atas kejadian yang sama adalah latihan "peristiwa itu netral" yang paling nyata.

Kalau suka mengumpulkan kalimat bijak, simpan juga kutipan pilihan per tema sebagai pengingat harian. Asal ingat, kutipan baru berguna setelah dipraktikkan.

Filosofi Teras tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Yang ditawarkannya lebih sederhana: cara memilah mana yang perlu kamu pikul dan mana yang boleh kamu lepaskan. Untuk memulai, pilih satu hal yang sedang mengganggu pikiranmu hari ini, lalu tanyakan: bagian mana yang benar-benar ada dalam kendaliku?

Coba praktikkan

Pilah satu kekhawatiranmu dengan dikotomi kendali

  1. Tulis satu hal yang sedang mengganggu pikiranmu hari ini dalam satu kalimat, misalnya presentasi besok atau balasan chat yang belum datang.
  2. Buat dua kolom: hal yang ada dalam kendalimu (persiapan, kata-katamu, sikapmu) dan hal di luar kendalimu (penilaian orang, cuaca, hasil akhir).
  3. Pilih satu langkah kecil dari kolom pertama yang bisa kamu kerjakan dalam 15 menit, lalu kerjakan sekarang.
  4. Malam harinya, catat di jurnal: apa yang terjadi, penilaian apa yang sempat muncul, dan apakah penilaian itu masih terasa tepat setelah kamu pikirkan ulang.

Latihan ini membantu kamu memilah fokus, bukan menghapus perasaan. Rasa kesal atau khawatir tetap boleh ada dan tetap boleh kamu akui.

Pertanyaan yang sering diajukan

Filosofi Teras adalah buku tentang apa?

Filosofi Teras adalah buku nonfiksi karya Henry Manampiring yang mengenalkan Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi kuno, sebagai cara praktis mengelola emosi negatif dalam hidup sehari-hari. Judulnya berasal dari stoa, teras berpilar di Athena tempat aliran filsafat ini pertama kali diajarkan.

Siapa penulis Filosofi Teras dan kapan buku ini terbit?

Penulisnya Henry Manampiring, dengan editor Patricia Wulandari dan ilustrator Levina Lesmana. Buku ini terbit pertama pada 2018 lewat Penerbit Kompas (PT Kompas Media Nusantara) dengan ISBN 978-602-412-518-9. Katalog Perpustakaan Nasional mencatat cetakan keenamnya pada Maret 2019, sedangkan cetakan yang jauh lebih baru memakai ISBN yang berbeda.

Apa itu dikotomi kendali dalam Filosofi Teras?

Dikotomi kendali adalah pemilahan antara hal yang ada dalam kendali kita, seperti penilaian, keinginan, dan tujuan, dengan hal di luar kendali kita, seperti tubuh, harta, reputasi, dan pendapat orang lain. Gagasan ini berasal dari bab pertama Enchiridion karya Epictetus dan menjadi fondasi seluruh buku.

Apakah Filosofi Teras cocok untuk pemula yang belum pernah membaca filsafat?

Cocok. Buku ini memang ditulis untuk pembaca umum, memakai ilustrasi, dan mengubah konsep filsafat menjadi latihan seperti S-T-A-R. Kalau setelahnya kamu ingin memahami Stoisisme secara lebih utuh, lanjutkan ke teks aslinya, misalnya Enchiridion karya Epictetus, atau ke ensiklopedia filsafat akademik.

Apakah ajaran Filosofi Teras berarti harus memendam perasaan?

Tidak. Stoisisme dalam buku ini mengajak kamu menilai ulang penilaianmu terhadap sebuah kejadian, bukan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa orang bijak dalam ajaran Stoa tetap punya perasaan baik dan bukan robot tanpa emosi. Arti stoik dalam bahasa Inggris sehari-hari, yaitu tidak mengeluh atau menunjukkan perasaan, berbeda dari itu, dan dalam kajian kesehatan stoisisme sebagai ideologi pribadi dikaitkan dengan keterlambatan mencari pertolongan.

Ahmad Thariq Syauqi

Penulis dan penanggung jawab redaksi Inti Diri

Ahmad Thariq Syauqi menulis artikel Inti Diri dan bertanggung jawab atas isi redaksinya. Ia adalah CEO dan pendiri Creativism, agensi digital marketing di Sleman, Yogyakarta, dan berpengalaman lebih dari 6 tahun menjalankan agensi. Ia bukan psikolog; setiap artikel yang ia tulis dicocokkan dengan sumber psikologi kredibel, dan daftar sumbernya ada di akhir artikel.

Disusun dengan bantuan AI, klaim dicocokkan ke sumber oleh redaksi. Pencocokan sumber terakhir: 15 Oktober 2026. Lihat cara kami menulis.

Sumber

  1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2019). Filosofi teras: filsafat Yunani-Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini (cantuman Katalog Perpustakaan Nasional RI, cetakan keenam 2019). Indonesia OneSearch, Perpustakaan Nasional RI. onesearch.id (diakses 15 Oktober 2026)
  2. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasil penelusuran ISBN 9786024125189 di katalog perpustakaan Indonesia. Indonesia OneSearch, Perpustakaan Nasional RI. onesearch.id (diakses 15 Oktober 2026)
  3. Perpustakaan Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Filosofi Teras (Cet. 60, 2024), detail katalog. OPAC Perpustakaan IPDN. appdev.ipdn.ac.id (diakses 15 Oktober 2026)
  4. Marion Durand, Simon Shogry, dan Dirk Baltzly (2023). Stoicism. Stanford Encyclopedia of Philosophy, Stanford University. plato.stanford.edu (diakses 15 Oktober 2026)
  5. Epictetus. The Enchiridion (terjemahan Thomas Wentworth Higginson). Project Gutenberg. gutenberg.org (diakses 15 Oktober 2026)
  6. Maulida Ilhami Zuhruful Ilmi dan Ganjar Eka Subakti (2023). Islam dan Filsafat Stoisisme: Kajian Buku Filosofi Teras Karya Henry Manampiring. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, Universitas Muhammadiyah Magelang. doi:10.31603/cakrawala.8399 (diakses 15 Oktober 2026)
  7. Dinella Irawati Fajrin, Hasan Mud'is, dan Yulianti (2022). Konsepsi Pengendalian Diri dalam Perspektif Psikologi Sufi dan Filsafat Stoisisme: Studi Komparatif dalam Buku Karya Robert Frager dan Henry Manampiring. Jurnal Riset Agama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. doi:10.15575/jra.v2i1.17122 (diakses 15 Oktober 2026)
  8. Megan E. L. Brown, dkk. (2022). Can stoic training develop medical student empathy and resilience? A mixed-methods study. BMC Medical Education (PubMed). doi:10.1186/s12909-022-03391-x (diakses 15 Oktober 2026)
  9. Elizabeth B. Pathak, Sarah E. Wieten, dan Christopher W. Wheldon (2017). Stoic beliefs and health: development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open (PubMed). doi:10.1136/bmjopen-2016-015137 (diakses 15 Oktober 2026)
  10. APA Dictionary of Psychology, American Psychological Association. Cognitive restructuring. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
  11. Cambridge Dictionary, Cambridge University Press. stoic. dictionary.cambridge.org (diakses 15 Oktober 2026)
  12. Umar Mukhtar (2019). Ikapi Beri Penghargaan Empat Tokoh Perbukuan. Republika. news.republika.co.id (diakses 15 Oktober 2026)
  13. Maryam Desianty Aldiana (2026). Film Filosofi Teras Angkat Perjuangan Hidup Berbalut Nilai Stoisisme. RRI. rri.co.id (diakses 15 Oktober 2026)

Bagikan artikel ini

WhatsApp