Hubungan, Komunikasi & Sosial

Empati Adalah: Jenis Empati Menurut Psikologi, Contoh, dan Cara Melatihnya

Empati adalah kemampuan memahami seseorang dari kerangka berpikirnya sendiri dan ikut merasakan apa yang ia alami, sambil tetap sadar bahwa perasaan itu milik orang lain.

oleh Ahmad Thariq SyauqiDisusun dengan bantuan AI, klaim dicocokkan ke sumber oleh redaksiTerbit 11 menit baca
Ilustrasi garis nila di atas putih: dua orang duduk berhadapan di meja bundar kecil dengan dua cangkir, satu bertopang dagu mendengarkan sementara yang lain bercerita sambil menggerakkan tangan
Empati sering dimulai dari hal sederhana: duduk berhadapan dan sungguh-sungguh mendengarkan.

Ringkasan jawaban

Empati adalah kemampuan memahami seseorang dari sudut pandangnya sendiri dan ikut merasakan apa yang ia alami, tanpa lupa bahwa perasaan itu milik orang lain. Psikologi membaginya menjadi empati kognitif (memahami), empati afektif (ikut merasakan), dan kepedulian empatik (tergerak peduli). Empati bisa dilatih, tetapi perlu diimbangi welas asih supaya tidak berubah menjadi kelelahan.

Empati adalah kemampuan memahami seseorang dari sudut pandangnya sendiri dan ikut merasakan apa yang ia alami, tanpa lupa bahwa perasaan itu milik orang lain, bukan milikmu. Bagian terakhir itu penting. Tanpa batas itu, yang terjadi bukan empati, melainkan larut dalam emosi orang lain sampai kamu sendiri kewalahan.

Kata empati sering dipakai dengan longgar, seolah sama dengan baik hati, sopan, atau gampang terharu. Padahal psikologi membedakannya dengan cukup tajam: ada bagian yang berupa pemahaman, ada bagian yang berupa perasaan, dan ada bagian yang berupa dorongan untuk peduli. Di artikel ini kamu akan melihat definisi empati dari sumber psikologi, tiga jenisnya, bedanya dengan simpati dan welas asih, contoh dalam keseharian, cara berkomunikasi dengan empatik, sisi gelap empati, dan cara melatihnya. Artikel ini bagian dari pilar hubungan dan komunikasi, jadi fokusnya pada empati dalam relasi sehari-hari.

Empati adalah apa menurut psikologi?

Kamus Psikologi APA mendefinisikan empati sebagai memahami seseorang dari kerangka berpikirnya sendiri, bukan dari kerangka berpikir kita, atau ikut mengalami perasaan, persepsi, dan pikiran orang itu secara tidak langsung. Kamus yang sama menambahkan satu catatan yang sering terlewat: empati, dengan sendirinya, tidak otomatis disertai keinginan untuk menolong. Empati bisa berkembang menjadi simpati, bisa juga berubah menjadi tekanan pribadi, dan keduanya bisa berujung pada tindakan.

Dua peneliti ilmu saraf sosial, Jean Decety dan Philip Jackson, memberi rumusan yang melengkapi definisi itu. Dalam makalah tahun 2004, mereka menjelaskan empati sebagai pengalaman kemiripan antara perasaan diri dan perasaan orang lain, tanpa kehilangan kesadaran perasaan siapa milik siapa. Menurut model mereka, empati tidak hanya melibatkan ikut merasakan, tetapi juga sedikit pengenalan dan pemahaman atas keadaan emosi orang lain. Komponen dasarnya mencakup representasi bersama di otak, kesadaran diri, kelenturan mental, dan pengaturan emosi.

Jadi kalau diringkas, empati punya dua sayap: memahami dan merasakan. Keduanya diikat oleh satu syarat, yaitu kamu tetap tahu batas antara dirimu dan orang lain.

Bedanya empati dengan sekadar tertular emosi

Pernah ikut tertawa karena seisi ruangan tertawa, padahal kamu tidak tahu apa yang lucu? Itu lebih dekat ke penularan emosi. Tania Singer dan Olga Klimecki menjelaskan dalam Current Biology (2014) bahwa dalam empati, kamu merasakan bersama seseorang tetapi tidak mencampuradukkan dirimu dengannya. Kalau pembedaan diri dan orang lain itu tidak ada, yang terjadi disebut penularan emosi, cikal bakal empati yang sudah ada sejak bayi.

Pembedaan ini terdengar akademis, tetapi dampaknya terasa di keseharian. Orang yang ikut panik setiap kali temannya panik belum tentu sedang berempati. Ia mungkin sedang tertular. Empati yang matang justru memungkinkanmu tetap tenang di samping orang yang sedang kacau, karena kamu paham perasaannya tanpa harus ikut tenggelam.

Tiga jenis empati: kognitif, afektif, dan kepedulian empatik

Para peneliti memakai istilah yang sedikit berbeda, tetapi tiga bagian berikut muncul di sumber-sumber yang dirujuk artikel ini. Helen Riess (2017) menggambarkan empati sebagai kapasitas untuk menangkap emosi orang lain, beresonansi dengannya secara emosional dan kognitif, mengambil sudut pandangnya, dan membedakan emosi sendiri dari emosi orang lain.

Diagram tiga kotak: empati kognitif berarti memahami pikiran dan sudut pandang orang lain, empati afektif berarti ikut merasakan emosinya, kepedulian empatik berarti tergerak peduli pada kesejahteraannya
Ketiga jenis empati sering muncul bersamaan, tetapi bisa dibedakan. Benang merahnya sama: kamu tetap tahu perasaan itu milik orang lain.

Empati kognitif

Empati kognitif adalah kemampuan memahami apa yang dipikirkan dan diyakini orang lain. Singer dan Klimecki menyebut kapasitas ini dengan beberapa nama: mentalisasi, theory of mind, atau pengambilan perspektif kognitif, dan mereka sendiri memakai kata empati khusus untuk ikut merasakan. Riess memasukkannya ke dalam empati dengan sebutan empati kognitif. Berkat kemampuan inilah kamu bisa mengerti bahwa orang lain punya pandangan yang berbeda dari pandanganmu. Contohnya, kamu paham kenapa adikmu kesal saat rencananya dibatalkan, meski menurutmu itu urusan kecil.

Empati afektif

Empati afektif adalah ikut merasakan emosi yang dialami orang lain. Menariknya, ini tidak hanya berlaku untuk emosi negatif. Singer dan Klimecki menulis bahwa empati memungkinkan kita ikut bahagia saat orang lain bahagia, sama seperti ikut merasakan sakit saat orang lain kesakitan. Jadi ikut senang ketika sahabatmu diterima kerja juga bentuk empati.

Kepedulian empatik

Bagian ketiga adalah rasa peduli yang berorientasi pada orang lain dan keinginan agar ia baik-baik saja. Riess merujuk eksperimen Batson dan rekan yang menemukan bahwa mengambil perspektif orang lain merupakan pendahulu kepedulian empatik, dan bahwa menghargai kesejahteraan orang tersebut meningkatkan kepedulian empatik yang pada gilirannya meningkatkan perilaku menolong.

Empat subskala versi Davis

Kalau kamu pernah melihat kuesioner empati, salah satu yang paling dikenal adalah Interpersonal Reactivity Index (IRI) buatan Davis (1980). Seperti dirangkum Gaggero dan rekan (2025), IRI terdiri atas 28 butir yang terbagi ke empat subskala, masing-masing tujuh butir:

Subskala IRIYang diukurDimensi menurut Davis
Perspective takingKemampuan memahami sudut pandang orang lainKognitif
FantasyKecenderungan larut dalam cerita dan menyamakan diri dengan tokoh fiksiKognitif
Empathic concernRasa simpati dan peduli kepada orang yang sedang kesulitanAfektif
Personal distressKecenderungan ikut merasa tertekan dalam situasi antarpribadi yang tegangAfektif

Subskala terakhir menarik untuk direnungkan. Merasa tertekan saat melihat orang lain kesusahan tidak sama dengan peduli padanya. Bagian berikutnya menjelaskan kenapa perbedaan ini penting.

Empati, simpati, dan welas asih: apa bedanya?

Tiga kata ini sering dipertukarkan, padahal maknanya berbeda. Menurut Kamus Psikologi APA, simpati adalah rasa prihatin atau iba yang muncul karena menyadari penderitaan atau kesedihan orang lain. Sementara itu, welas asih (compassion) adalah rasa simpati yang kuat terhadap kesedihan atau penderitaan orang lain, biasanya disertai keinginan untuk menolong atau menghibur.

EmpatiSimpatiWelas asih
IntiMemahami dan ikut merasakan dari posisi orang ituPrihatin atas penderitaan orang lainSimpati yang kuat, disertai keinginan menolong
Posisi kamu (secara sederhana)Mencoba masuk ke sudut pandangnyaMelihat dari posisimu sendiriTetap di posisimu, tetapi bergerak ke arahnya
Berlaku untuk emosi positif?Ya, ikut senang juga empatiUmumnya untuk kesedihanUmumnya untuk penderitaan
Contoh kalimat"Kedengarannya kamu kecewa sekali, ya.""Aduh, kasihan banget kamu.""Aku di sini. Ada yang bisa aku bantu?"

Tidak ada yang lebih buruk di antara ketiganya. Simpati tetap bernilai, terutama ketika kamu tidak punya cukup informasi untuk benar-benar memahami situasi seseorang. Masalahnya muncul kalau rasa kasihan dipakai sebagai pengganti mendengarkan. Kalimat "kasihan banget" yang diucapkan terburu-buru bisa terasa seperti pintu yang ditutup, karena orang itu belum sempat bercerita apa pun.

Contoh empati dalam kehidupan sehari-hari

Empati paling mudah dipahami lewat situasi nyata. Berikut beberapa contoh yang mungkin akrab untukmu, lengkap dengan respons yang kurang empatik dan yang lebih empatik.

  1. Teman gagal seleksi beasiswa. Respons yang kurang empatik: "Ya sudah, masih banyak beasiswa lain." Respons yang lebih empatik: "Kamu sudah menyiapkannya berbulan-bulan, wajar kalau rasanya berat. Mau cerita bagian mana yang paling bikin kecewa?" Kalimat pertama terburu-buru menghibur, kalimat kedua mengakui perasaannya dulu.
  2. Rekan kerja membalas pesan singkat-singkat. Empati kognitif membantumu menimbang kemungkinan lain sebelum tersinggung: mungkin ia sedang dikejar tenggat. Kamu tetap boleh bertanya, tetapi dari rasa ingin tahu, bukan dari tuduhan.
  3. Orang tua yang terus bertanya kapan kamu lulus. Memahami sudut pandang mereka (kekhawatiran soal masa depanmu) tidak berarti kamu harus setuju dengan cara mereka bertanya. Empati bukan persetujuan. Kamu bisa memahami dan tetap memasang batas.
  4. Sahabat baru diterima kerja. Ikut senang dengan tulus, tanpa buru-buru membandingkan dengan nasibmu sendiri, juga termasuk empati afektif.

Contoh nomor tiga sering membuat orang bingung. Banyak yang mengira berempati berarti harus mengalah. Padahal mengalah terus-menerus demi menjaga perasaan orang lain lebih dekat ke pola people pleaser, yang justru sering mengorbankan kebutuhan diri sendiri. Empati yang sehat tetap menyisakan ruang untuk dirimu.

Satu catatan lagi soal cara orang menunjukkan kepedulian. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk merasa diperhatikan, dan memahami perbedaan itu juga bagian dari empati kognitif. Kalau tertarik, kamu bisa membaca tentang love language sebagai salah satu cara memetakan perbedaan tersebut, sambil tetap kritis terhadap batas-batas konsepnya.

Komunikasi empatik: cara berempati saat mendengarkan

Komunikasi empatik adalah cara berbicara dan mendengarkan yang berusaha menangkap pengalaman orang lain dari kerangka berpikirnya, lalu menunjukkan bahwa kamu sudah menangkapnya. Definisi APA tadi memberi kata kunci yang praktis: kerangka berpikir orang itu, bukan kerangka berpikirmu. Dalam percakapan, ini berarti menahan diri dari tiga refleks yang sangat umum: buru-buru memberi solusi, membandingkan dengan pengalamanmu sendiri, dan mengecilkan masalah.

Berikut cara berempati yang bisa langsung kamu coba di obrolan berikutnya:

  • Dengarkan sampai selesai. Tahan keinginan menyela dengan cerita versimu. Tugasmu di menit-menit awal hanya memahami.
  • Sebut perasaan yang kamu tangkap. Misalnya, "Sepertinya kamu merasa tidak dihargai, ya?" Kalau tebakanmu meleset, tidak apa-apa. Koreksi dari orang itu justru membuatmu lebih paham.
  • Ulangi dengan kata-katamu sendiri. Ringkasan singkat seperti "Jadi yang bikin kesal bukan tugasnya, tapi caranya diberikan mendadak" menunjukkan bahwa kamu benar-benar mengikuti ceritanya.
  • Tanyakan apa yang ia butuhkan. Ada orang yang ingin solusi, ada yang hanya ingin didengar. Bertanya lebih empatik daripada menebak.
  • Beri ruang untuk diam. Jeda beberapa detik sering terasa canggung, padahal bisa memberi kesempatan orang itu merapikan pikirannya.

Kalau kamu cenderung pendiam atau merasa dirimu seorang introvert, kabar baiknya, mendengarkan adalah keterampilan yang tidak menuntut banyak bicara. Sebaliknya, suka bicara juga tidak menghalangimu menjadi pendengar yang baik, asalkan kamu memberi giliran.

Satu hal yang perlu jujur diakui: teknik di atas bukan mantra. Mengulang kalimat orang tanpa sungguh-sungguh peduli bisa terasa seperti membaca skrip. Teknik hanya membantu perhatianmu tetap tertuju pada orang di depanmu.

Sisi lain empati: bisa melelahkan dan bias

Empati sering diperlakukan sebagai kebaikan tanpa cela. Sumber ilmiah memberi gambaran yang lebih bernuansa. Psikolog Paul Bloom, dalam Trends in Cognitive Sciences (2017), menulis bahwa empati memang terbukti bisa mendorong perilaku prososial, tetapi fokusnya sempit, tidak peka terhadap jumlah, dan rentan bias. Menurutnya, empati bahkan bisa memicu kekejaman dan agresi, serta berujung pada kelelahan.

Soal bias, Riess menjelaskan bahwa empati afektif paling mudah muncul di antara anggota "suku" yang sama. Kita lebih gampang ikut merasakan sakitnya orang yang mirip dengan kita. Karena itu, menurut Riess, empati kognitif harus ikut berperan ketika empati emosional tidak muncul akibat perbedaan ras, suku, agama, atau kondisi fisik.

Bagan bercabang dari kotak ikut merasakan penderitaan orang lain menuju dua kotak: distres empatik dengan emosi negatif yang menumpuk dan bisa menjadi sumber burnout, serta welas asih yang peduli, disertai emosi positif dan keinginan menolong
Ikut merasakan bisa bermuara pada distres empatik atau pada welas asih. Bagan ini penyederhanaan redaksi dari Klimecki dkk. (2014), Kamus Psikologi APA, dan Bloom (2017).

Soal kelelahan, ada temuan yang menarik. Dalam studi Klimecki dan rekan (2014), peserta yang dilatih beresonansi secara empatik justru menunjukkan emosi negatif yang lebih tinggi saat menonton video penderitaan manusia. Para peneliti membuka laporannya dengan catatan bahwa ikut merasakan emosi negatif orang lain secara berlebihan bisa merugikan dan menjadi sumber burnout. Kabar baiknya, latihan welas asih sesudahnya mampu membalik kenaikan emosi negatif itu dan meningkatkan emosi positif. Kesimpulan mereka: melatih welas asih bisa menjadi cara baru mengatasi distres empatik dan memperkuat ketahanan diri.

Jadi, apakah empati itu buruk? Tidak. Yang lebih tepat: empati adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Kalau kamu sering merasa terkuras setelah mendengarkan masalah orang lain, mungkin yang perlu dilatih bukan empati yang lebih banyak, melainkan kemampuan mengubah ikut merasakan menjadi kepedulian yang tetap memberimu ruang bernapas. Kelelahan emosional yang menumpuk dari pekerjaan atau peran merawat juga dibahas di artikel tentang burnout. Kalau rasa lelah itu terasa berat dan tidak kunjung reda, berbicara dengan psikolog adalah langkah yang wajar; direktori psikolog HIMPSI dan layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan ada di halaman Bantuan. Informasi kesehatan mental dari sisi medis tersedia sebagai bacaan tambahan di Bugar Selalu, situs saudara Inti Diri.

Cara meningkatkan empati yang didukung bukti

Dulu empati dianggap sifat bawaan yang tidak bisa diajarkan. Riess mencatat bahwa riset telah menunjukkan sebaliknya: kemampuan ini bisa berubah dan bisa diajarkan, setidaknya pada tenaga kesehatan. Bukti yang lebih luas datang dari meta-analisis Teding van Berkhout dan Malouff (2016) terhadap 18 uji acak terkontrol dengan total 1.018 peserta. Hasilnya, program pelatihan empati efektif secara keseluruhan dengan efek sedang (g = 0,63, disesuaikan menjadi 0,51 setelah memperhitungkan kemungkinan bias publikasi). Jarak terlama antara pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan dalam studi-studi itu enam bulan, jadi meta-analisis ini belum bisa menjawab apakah efeknya bertahan lebih lama dari itu.

Meta-analisis itu juga mencatat bahwa tingkat empati yang tinggi berkaitan dengan hubungan yang sehat dan perilaku prososial. Berikut langkah yang bisa kamu jadikan latihan sehari-hari, disusun dari temuan di atas:

  1. Latih membaca emosi. Meta-analisis tadi menemukan efek lebih besar pada studi yang alat ukurnya khusus menilai kemampuan memahami emosi orang lain, ikut merasakannya, atau menanggapinya dengan tepat. Ketiganya bisa kamu jadikan bahan latihan. Kamu bisa mulai dengan menebak perasaan orang dalam percakapan, lalu memeriksanya dengan bertanya.
  2. Sengaja ambil perspektif. Sebelum menilai, tanyakan: apa yang mungkin ia tahu, rasakan, atau khawatirkan yang tidak aku lihat? Riess menyebut pengambilan perspektif sebagai pendahulu kepedulian empatik.
  3. Perluas lingkaran. Karena empati afektif lebih mudah muncul untuk orang yang mirip dengan kita, cobalah sesekali mendengar cerita dari orang yang latar belakangnya berbeda darimu, lalu pakai empati kognitif secara sadar.
  4. Imbangi dengan welas asih. Ketika cerita orang lain terasa berat, geser fokus dari "ikut merasakan sakitnya" ke "berharap ia baik-baik saja dan bertanya apa yang bisa kubantu". Ini sejalan dengan temuan Klimecki dan rekan.
  5. Refleksikan. Menulis ulang percakapan yang sulit membantumu melihat bagian mana yang kamu pahami dan bagian mana yang kamu lewatkan. Jurnal Refleksi bisa kamu pakai untuk itu, dan isinya hanya tersimpan di browsermu sendiri.

Kalau setelah mendengarkan orang lain pikiranmu malah berputar-putar memikirkan masalahnya semalaman, itu tanda kamu perlu jeda. Artikel tentang overthinking bisa membantumu mengenali pola tersebut.

Pada akhirnya, empati bukan tentang menjadi orang yang paling peka di ruangan. Empati adalah kesediaan untuk sejenak melihat dunia dari kursi orang lain, lalu kembali ke kursimu sendiri dengan pemahaman yang lebih utuh. Mulailah dari satu percakapan hari ini.

Coba praktikkan

Satu percakapan, tiga pertanyaan

  1. Pilih satu obrolan hari ini, dengan teman, keluarga, atau rekan kerja, lalu niatkan untuk lebih banyak mendengar daripada menanggapi.
  2. Sebelum memberi saran, ulangi dengan kata-katamu sendiri apa yang kamu tangkap, lalu tanyakan apakah tangkapanmu sudah tepat.
  3. Tanyakan pada dirimu: kalau aku berada di posisinya, dengan pengalaman dan keadaannya, apa yang mungkin aku rasakan?
  4. Malam harinya, tulis satu hal baru yang kamu pahami tentang sudut pandang orang itu di Jurnal Refleksi.

Kalau mendengarkan cerita orang lain mulai terasa terlalu berat, beri dirimu jeda. Menjaga jarak sebentar bukan tanda kamu kurang peduli.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa pengertian empati secara singkat?

Empati adalah kemampuan memahami seseorang dari sudut pandangnya sendiri dan ikut merasakan apa yang ia alami. Kamus Psikologi APA menambahkan bahwa empati belum tentu disertai dorongan menolong; dorongan itu bisa muncul ketika empati berkembang menjadi simpati, atau justru menjadi tekanan pribadi.

Apa saja jenis empati menurut psikologi?

Yang paling sering dibahas ada tiga: empati kognitif (memahami pikiran dan sudut pandang orang lain), empati afektif (ikut merasakan emosinya), dan kepedulian empatik (tergerak peduli pada kesejahteraannya). Kuesioner Interpersonal Reactivity Index buatan Davis memecahnya lagi menjadi empat subskala: perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress.

Apa bedanya empati dan simpati?

Empati berarti memahami dan ikut merasakan dari posisi orang itu. Simpati, menurut Kamus Psikologi APA, adalah rasa prihatin atau iba yang muncul karena menyadari penderitaan orang lain. Secara sederhana, dalam pemakaian sehari-hari simpati lebih condong ke rasa kasihan dari posisimu sendiri, sedangkan empati mencoba masuk ke posisi orang tersebut. APA juga mencatat arti simpati yang lebih luas, yaitu kemampuan ikut merasakan dan menanggapi kekhawatiran atau perasaan orang lain, sehingga batas keduanya tidak selalu tajam.

Apa contoh empati dalam kehidupan sehari-hari?

Contohnya, temanmu gagal seleksi beasiswa. Alih-alih langsung berkata kamu masih punya banyak kesempatan, kamu bertanya bagaimana perasaannya, mendengarkan, lalu mengulang apa yang kamu tangkap. Contoh lain: memahami bahwa rekan kerja yang membalas pesan singkat-singkat mungkin sedang dikejar tenggat, bukan sedang marah padamu.

Apakah empati bisa dilatih?

Bisa. Meta-analisis Teding van Berkhout dan Malouff (2016) terhadap 18 uji acak terkontrol dengan 1.018 peserta menemukan program pelatihan empati efektif secara keseluruhan dengan efek sedang. Latihannya bisa sesederhana belajar mengenali emosi orang lain, membayangkan sudut pandangnya, lalu memeriksa tebakanmu dengan bertanya.

Kenapa terlalu berempati bisa melelahkan?

Klimecki dan rekan (2014) mencatat bahwa ikut merasakan emosi negatif orang lain secara berlebihan bisa merugikan dan menjadi sumber burnout. Dalam studi mereka, latihan empati menaikkan emosi negatif saat melihat penderitaan orang lain, lalu latihan welas asih sesudahnya membalik kenaikan itu dan menambah emosi positif.

Ahmad Thariq Syauqi

Penulis dan penanggung jawab redaksi Inti Diri

Ahmad Thariq Syauqi menulis artikel Inti Diri dan bertanggung jawab atas isi redaksinya. Ia adalah CEO dan pendiri Creativism, agensi digital marketing di Sleman, Yogyakarta, dan berpengalaman lebih dari 6 tahun menjalankan agensi. Ia bukan psikolog; setiap artikel yang ia tulis dicocokkan dengan sumber psikologi kredibel, dan daftar sumbernya ada di akhir artikel.

Disusun dengan bantuan AI, klaim dicocokkan ke sumber oleh redaksi. Pencocokan sumber terakhir: 15 Oktober 2026. Lihat cara kami menulis.

Sumber

  1. American Psychological Association (2023). Empathy, APA Dictionary of Psychology. American Psychological Association. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
  2. American Psychological Association (2018). Sympathy, APA Dictionary of Psychology. American Psychological Association. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
  3. American Psychological Association (2018). Compassion, APA Dictionary of Psychology. American Psychological Association. dictionary.apa.org (diakses 15 Oktober 2026)
  4. Jean Decety, Philip L. Jackson (2004). The functional architecture of human empathy. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews. doi:10.1177/1534582304267187 (diakses 15 Oktober 2026)
  5. Tania Singer, Olga M. Klimecki (2014). Empathy and compassion. Current Biology. doi:10.1016/j.cub.2014.06.054 (diakses 15 Oktober 2026)
  6. Helen Riess (2017). The Science of Empathy. Journal of Patient Experience. doi:10.1177/2374373517699267 (diakses 15 Oktober 2026)
  7. Giulia Gaggero dkk. (2025). Assessing the French Interpersonal Reactivity Index (IRI): Psychometric and Qualitative Properties Through the Three French Versions of the IRI Scale. Psychologica Belgica. doi:10.5334/pb.1328 (diakses 15 Oktober 2026)
  8. Olga M. Klimecki, Susanne Leiberg, Matthieu Ricard, Tania Singer (2014). Differential pattern of functional brain plasticity after compassion and empathy training. Social Cognitive and Affective Neuroscience. doi:10.1093/scan/nst060 (diakses 15 Oktober 2026)
  9. Emily Teding van Berkhout, John M. Malouff (2016). The efficacy of empathy training: A meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Counseling Psychology. doi:10.1037/cou0000093 (diakses 15 Oktober 2026)
  10. Paul Bloom (2017). Empathy and Its Discontents. Trends in Cognitive Sciences. doi:10.1016/j.tics.2016.11.004 (diakses 15 Oktober 2026)

Bagikan artikel ini

WhatsApp